|
Menyusun Instrumen Evaluasi Pendidikan dengan Semangat “Sawiji-Greget-Sengguh-Ora Mingkuh”
 Dinas Dikpora Prov. DIY - Selama ini ada banyak permintaan masyarakat untuk mendirikan Perguruan Tinggi (PT). Namun belum ada instrumen baku yang mengevaluasi pendirian perguruan tinggi tersebut. Akibatnya, banyak ditemui PT yang kurang berkualitas di Jogja, yang pada akhirnya menghasilkan lulusan yang kurang berkualitas. Lebih parah lagi, kalau PT tersebut pada akhirnya hanya akan kolaps.
Demikian diungkapkan Ben Senang Galus, SH., Pemantau Mutu Pendidikan Tinggi pada Seksi Dikmenti Dinas Dikpora DIY. Atas dasar itulah, Dinas Dikpora DIY melalui Seksi Dikmenti menyelenggarakan Lokakarya Penyusunan Instrumen Evaluasi Pendidikan Pembukaan/ Penutupan Perguruan Tinggi. Lokakarya ini dilaksanakan di Hotel Satya Graha selama 2 hari, mulai tanggal 29 Juli hingga 30 Juli 2010. Lokakarya ini diikuti oleh 30 orang peserta dari perwakilan PT, diantaranya adalah Akbid Karya Husada, Poltekkes Yogyakarta, Stikes Guna Bangsa, Stikes Surya Global, UPY, Uncok, Stipram, Poltekkes Permata Indonesia, Stikes Almat ATA, Stikes Bethesda, Stikes Ahmad Yani, Stikes Yogyakarata, perwakilan organisasi profesi seperti IBI, PAFI dan PPNI serta Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan. Diharapkan nantinya setelah lokakarya ini, akan ada instrumen evaluasi pendidikan untuk pembukaan/penutupan perguruan tinggi yang sesuai dengan karakter Yogyakarta.
“Dirjen Dikti sebenarnya sudah memberikan pedoman perumusan instrumen evaluasi, namun instrumen tersebut masih belum sesuai dengan karakter Jogja. Oleh karenanya, kita mencoba merumuskan instrumen evaluasi yang sesuai dengan karakter Jogja, mulai dari persyaratan pendirian PT, hingga saat PT nantinya akan kolaps”, ujar Ben yang juga Ketua Panitia Lokakarya ini.
Kepala Dinas Dikpora DIY Prof. Suwarsih Madya, Ph.D. yang juga hadir dalam acara ini, memberikan sambutan pencerahan kepada semua peserta lokakarya. Beliau berpesan hendaknya dalam membuka jurusan, PT sudah harus benar-benar siap. PT harus memiliki standar kompentensi lulusan yang jelas, standar tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, standar pengelolaan, standar sarana prasarana, standar pembiayaan serta standar penilaian.
“Ini semua perlu pemahaman. Oleh karenanya, yang perlu diperhatikan dalam pembuatan instrumen adalah validitas isi dan kepraktisan menggunakan. Jangan sampai ada lagi penutupan program studi terjadi, karena belum adanya standar instrumen evaluasi pendirian PT yang jelas”, pesan Prof. Suwarsih.
Beliau juga berpesan agar peserta fokus pada kualitas, yaitu agar membuat instrumen tersebut sebaik mungkin, tapi tetap mudah untuk dikerjakan. “Tolong susunlah instrumen dengan niat yang mulia, yakni menyelamatkan bangsa dari kebohongan publik. Buatlah instrumen ini untuk meniti tangga menuju kualitas sejati dari perguruan tinggi yang ada di Yogyakarta, agar perguruan tinggi di DIY bisa menjadi PT yang berkualitas di tingkat Asia”, harap Beliau.
Terakhir Beliau mengingatkan akan filosofi adiluhung yang dicetuskan oleh Sultan Hamengku Buwono I, yang nantinya bisa diterapkan dalam pembuatan instrumen evaluasi ini. Filosofi tersebut adalah “Sawiji-Greget-Sengguh-Ora Mingkuh”. “Sawiji” berarti dihayati dari lubuk hati yang paling dalam dan dari langit pikiran yang paling tinggi. “Greget” diartikan dinamis dan penuh semangat. “Sengguh” adalah rasa percaya diri atas apa yang kita lakukan, namun tetap tidak sombong. Sedangkan “ora mingkuh” mempunyai makna tidak terpengaruh, walaupun rintangan dan halangan menghadang. Sungguh sebuah filosofi dahsyat, yang bersumber dari akar kebudayaan yang kuat. Dan tentu jika diterapkan dalam pembuatan instrumen evaluasi pendidikan, akan membuahkan hasil sesuai dengan yang diharapkan. (m.tok)
|