MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MENGGUNAKAN MEDIA KARTU BERGAMBAR - dikpora.jogjaprov.go.id DETAIL ARTIKEL JURNAL Dipublish: 22 Maret 2017 10:03 WIB, - Dibaca : 916 kali

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MENGGUNAKAN MEDIA KARTU BERGAMBAR

Penulis : MM. Eni Suryati, S.Pd
Share :

Belajar membaca pada anak usia dini masih menjadi perdebatan tersendiri dikalangan orang tua maupun praktisi pendidikan. Apakah anak diwajibkan belajar membaca pada usia TK ? Bukankah TK adalah taman kanak-kanak yang merupakan taman untuk bermain dan belajar bersosialisasi, bukan taman untuk belajar membaca, menulis dan berhitung. Adapun jika ada pembelajaran yang bersifat kongnitif, itu pun dilakukan berdasarkan minat anak dan tanpa paksaan serta menggunakan metode yang menyenangkan.

Berbagai metode membaca untuk anak cepat bisa membaca dan menulis kini banyak ditawarkan, mulai dari metode yang sederhana sampai ke metode yang menawarkan anak bisa membaca dalam waktu yang singkat. Disini peran orang tua sangat diperlukan untuk menentukan apakah anak harus belajar membaca sejak dini atau menundanya sampai anak cukup umur, karena pada dasarnya belajar membaca adalah sebuah proses, sehingga tidak bisa dicapai dalam waktu yang singkat. Tahap awal dari sebuah proses belajar membaca pada siswa sekolah dasar kelas rendah adalah membaca permulaan. Pada tahap ini siswa belajar memperoleh kemampuan membaca yang dimulai dari kemampuan menerjemahkan simbol atau gambar, huruf ke dalam suara yang dikombinasikan ke dalam suku kata, kata kemudian kalimat.

Tujuan dari pembelajaran ini agar siswa memiliki kemampuan memahami dan menyuarakan tulisan dengan benar sebagai dasar keterampilan membaca lanjut. Tujuan membaca permulaan dalam (Depdikbud, 1994:4) yaitu agar “Siswa dapat membaca kata-kata dan kalimat sederhana dengan lancar dan tepat”. Metode dalam pembelajaran ini disebut metode Membaca dan Menulis Permulaan (MMP).

Kemampuan membaca merupakan keterampilan dasar bagi siswa sebagai bekal untuk dapat mengikuti pelajaran di sekolah. Dengan kemampuan membaca yang sudah dimiliki, siswa akan lebih mudah mengikuti dan menerima pelajaran dengan baik. Namun masalah yang masih sering dialami oleh guru kelas rendah terutama kelas I adalah belum semua siswa mempunyai kemampuan membaca dengan baik walau tidak menutup kemungkinan sudah banyak siswa yang sudah bisa dan lancar membaca ketika baru masuk sekolah dasar. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi seorang guru terutama guru kelas rendah yang harus piawai dalam merancang pembelajaran membaca yang efektif dan menyenangkan sehingga bisa membantu siswa menguasai keterampilan membaca serta menumbuhkan kebiasaan membaca siswa.

Selama ini metode pembelajaran membaca yang diterapkan guru masih yang bersifat konvensional dan kurang memanfaatkan media yang menarik. Guru cenderung mengajarkan siswa membaca langsung dengan menggunakan buku, walaupun buku yang digunakan juga sesuai tahap kemampuan siswa, namun belajar membaca langsung dengan buku terkesan lebih serius, sehingga akan menimbulkan rasa tertekan pada bebarapa siswa. Suasana berbeda akan terlihat jika guru menggunakan media yang menarik dengan metode yang menarik pula sehingga anak tanpa terasa sedang belajar tanpa perasaan tertekan.

Salah satu media menarik yang bisa digunakan untuk pembelajaran membaca permulaan adalah media kartu bergambar. Media ini bisa berupa kartu huruf, kartu kata dan kartu kalimat. Media ini menarik bagi anak karena disertai dengan gambar berwarna beserta huruf atau kata yang sesuai dengan objek yang ditampilkan. Beberapa kelebihan dari media ini menurut Sadiman (1996:31) adalah: 1) Sifatnya kongkret dan lebih realistis dalam memunculkan pokok masalah, jika dibandingkan dengan bahasa verbal, 2) Dapat mengatasi batasan ruang dan waktu, keterbatasan pengamatan, memperjelas masalah bidang apa saja, dan harganya murah , mudah di dapa dan mudah digunakan, 3) Sebagai salah satu teknik media pembelajaran yang efektif, karena mengkombinasikan fakta dan gagasan secara jelas, kuat dan terpadu melalui pengungkapan kata huruf bergambar.

Proses pembelajaran menggunakan media kartu huruf bergambar bisa dimulai dengan bernyanyi, melafalkan huruf dan kata, bermain menyusun huruf menjadi kata, tebak-tebakan, dll. Untuk pengenalan kata dimulai dari kata yang dekat, mudah dipahami dan sering didengar oleh anak. Misalnya untuk memperkenalkan huruf A, maka bisa menggunakan kartu dengan gambar apel dan dibelakangnya terdapat huruf A. Atau bisa juga menggunakan metode permainan dengan cara siswa disuruh menyusun huruf sesuai kata yang diperintahkan guru, serta permainan tebak-tebakan. Dengan metode tersebut diharapkan siswa bisa belajar dengan perasaan senang dan tanpa tertekan, karena dengan perasaan yang senang siswa akan lebih mudah dalam belajar membaca. Melalui media kartu bergambar yang menarik dan proses pembelajaran yang menyenangkan, diharapkan membantu kemampuan membaca siswa dan mampu menumbuhkan motivasi siswa untuk belajar membaca.

Dari hasil penelitian yang dilaksanakan pada siswa kelas I SD Jarakan sewon Bantul yang berjumlah 22 siswa pada semester I tahun ajaran 2015/2016, menunjukan bahwa media kartu ini sangat membantu siswa dalam belajar membaca. Adapun teknik pengumpulan data menggunakan observasi langsung dan nilai hasil tes. Instrumen dalam penelitian ini adalah lembar observasi proses pembelajaran yang terdiri dari empat indikator, yaitu: (1) Memperhatikan petunjuk pelafalan huruf abjad berdasarkan kartu huruf bergambar, (2) Ikut melafalkan atau menirukan huruf abjad berdasarkan kartu huruf bergambar, (3) Menebak huruf abjad secara acak melalui kartu huruf bergambar, (4) Latihan membaca suku kata melalui permaianan menggunakan kartu huruf bergambar. Diakhir proses pembelajaran yang dilaksanakan selama berulang-ulang sampai siswa mengalami peningkatan dalam membaca, kemudian diadakan tes evaluasi. Pelaksanaan PTK ini dilaksanakan sebanyak 2 siklus, yang mana hasil dari siklus I hasilnya belum mencapai target, sehingga dilanjutkan pada siklus ke 2. Hasil dari proses pembelajaran dan tes evaluasi terjadi peningkatan keterampilan membaca, sehingga ketuntasan ketuntasan siswa pada kompetensi membaca siswa mengalami peningkatan. Hasil tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1. Data Hasil Belajar dan Ket untasan Siswa

No

Aspek

Skor / Jumlah

Siklus I

Skor/Jumlah

Siklus II

1.

Nilai Tertinggi

100

100

2.

Nilai Terendah

40

50

3.

Rerata Hasil Belajar

74,09%

82,36%

4.

Ketuntasan belajar (nilai > 75)

14 siswa (64%)

19 siswa (86%)

5.

Ketidak tuntas belajar (nilai =< 75)

8 siswa (36%)

3 siswa (14%)

6.

Proses pembelajaran

65,93%

70,09%

6.

Rerata Ketuntasan Siswa

64%

86%

Sumber: data primer, 2015

Dari data diatas, dapat diketahui bahwa pada siklus pertama dan kedua kemampuan dan nilai siswa mengalami peningkatan pada setiap aspeknya. Pada aspek rerata hasil belajar meningkat dari 74,09 menjadi 82,36% atau mengalami kenaikan sebanyak 8,27%. Sementara pada proses pembelajaraan mengalami peningkatan sebanayak 4,16% dari 65,93% menjadi 70,09%. Rerata ketuntasan siswa juga mengalami peningkatan sebanyak 22% dari 64% menjadi 86%, sehingga tinggal 3 siswa yang belum mencapai ketuntasan belajar. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa media kartu huruf bergambar dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa. Adapun peningkatan proses pembelajaran, hasil belajar dan tinkat ketuntasan siswa dari siklus I ke siklus II dapat dilihat pada histogram berikut :


Gambar 1. Diagram Rerata Proses pembelajaran, Hasil Belajar dan Ketuntasan Siswa Tiap Siklus

Kesimpulan yang dapat dihasilkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : (1) Telampauinya target keberhasilan KKM sebesar 86%. Hal ini lebih besar dari target keberhasilan perbaikan pembelajaran sebesar 80%. (2) Rerata nilai hasil belajar membaca pada tahap pra siklus baru mencapai skor 67,02 menjadi 72,04 pada siklus I, dan mencapai skor 82,36 pada siklus II, atau mengalami kenaikan sebanyak 10,32%. (3) Indikator proses pembelajaran yang bisa dilihat dari keaktifan siswa selama proses pembelajaran dengan media kartu huruf bergambar mengalami peningkatan sebesar 8,16%, yaitu sebesar 65,93% pada siklus I menjadi sebesar 74,09% pada siklus II.

DAFTAR PUSTAKA

A.S, Sadiman, dkk (1996 ). Media Pendidikan : Pengertian, Pengembangan dan Pemanfaatannya, Jakarta : Raja Grafindo Persada

Depdikbud. ( 2004 ) .UU SPN No 2, Jakarta : Depdikbud

Henry Guntur Tarigan. ( 1979 ). Membaca sebagai suatu keterampilan berbahasa : Bandung : Angkasa Bandung.

R.Masri Sareb Putra. ( 2008 ). Menimbulkan M inat Baca Sejak Dini . Jakarta : Pt. Indeks.

(http://paudstaialgazalibone.blogspot.co.id/2013/04/pengertian-membaca-

permulaan.html



Penulis
MM. Eni Suryati, S.Pd,

Guru SD Jarakan 1 Kecamatan Sewon Bantul

 


Artikel lainya

 
LAKUKAN SEKARANG UNTUK MENULIS
 
KEAKRABAN GURU DAN PENGAWAS SEKOLAH
 
Membangun Kemitraan di Awal Tahun Ajaran Baru
 
MEDIAHERBARIUM (OBJEKTUMBUHAN YANG DIKERINGKAN)SEBAGAI MEDIA ALTERNATIF DALAM PEMBELAJARAN IPA DI SD

Komentar artikel jurnal

Artikel Lain Kembali ke atas


ARTIKEL JURNAL
Penulis: Trisni Setyaningsih S.Pd.SD
LAKUKAN SEKARANG UNTUK MENULIS
Penulis: Giyarsih - Pengawas Dikpora Kulonprog
KEAKRABAN GURU DAN PENGAWAS SEKOLAH




POJOK INSPIRASI

Tak ada orang yang akan sukses jika tidak siap menghadapi dan menggulangi kesulitan-kesulitan dan mempersiapkan diri memikul tanggung jawab. (William J. H. Boectcker)
LINK PENTING: BSE - Lembaga Pusat - Lembaga Daerah - Link UPTD - Budaya Baca - Konten Pendidikan - NUPTK - NISN - NPSN - Seksi DIKTI - BAN SM

Kantor : Jl.Cendana 9 Yogyakarta Kode Pos : 55166 Telepon : (0274) 541322 Fax : 513132 Email : dikpora@jogjaprov.go.id
Dinas Pendidikan, Pemuda, & Olahraga
Daerah Istimewa Yogyakarta.

www.dikpora.jogjaprov.go.id
Copyright © 2014 .Hak cipta dilindungi undang-undang.
Web themes by watulintang.com