Menanamkan Nilai Kebinekaan Pada Siswa Baru - dikpora.jogjaprov.go.id DETAIL ARTIKEL JURNAL Dipublish: 05 September 2017 07:04 WIB, - Dibaca : 122 kali

Menanamkan Nilai Kebinekaan Pada Siswa Baru

Penulis : Thoriq Tri Prabowo
Share :

Menanamkan Nilai Kebinekaan pada Siswa Baru

Oleh: Thoriq Tri Prabowo

Alumnus Magister Interdisciplinary Islamic Studies

Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

Memasuki awal semester pada setiap tahun akademik, baik sekolah negeri atau swasta biasanya akan memulai proses kegiatan belajar mengajarnya. Hal tersebut tentu menjadi suatu hal yang lumrah bagi siswa, namun tidak bagi siswa baru baik di SD, SMP, ataupun SMA. Bagi siswa baru, pembelajaran di sekolah tingkat lanjutan merupakan sesuatu yang baru karena model pembelajaran di sekolah sebelumnya dan sekolah yang sekarang dijalani memang berbeda.

Sosialisasi pembelajaran (Sospem) merupakan kegiatan yang perlu diselenggarakan sekolah untuk mengenalkan cara bagaimana menjadi seorang pelajar yang sukses. Selain itu, sospem tersebut juga sangat diperlukan untuk lebih mengenalkan kebinekaan Indonesia. Ketika siswa sudah memahami masalah kebinekaan, maka mereka akan lebih toleran dan bijak dalam menyikapi permasalahan.

Nilai-nilai kebinekaan sangat penting ditanamkan kepada siswa, pasalnya keberagaman lazim terjadi juga dalam kehidupan akademik di sekolah, termasuk dalam hal perbedaan pendapat. Sebelumnya, perbedaan pendapat ialah hal yang lumrah namun baru-baru ini seakan semuanya harus seragam. Belakangan ini sikap toleran dan kebinekaan seakan memudar. Internet yang seharusnya bisa digunakan sebagai media bertukar informasi sehat, justru menjadi ajang `perang` untuk mempertahankan ego masing-masing.

Berkembang pesatnya teknologi internet membuat siapa saja bisa memproduksi informasi. Hal tersebut menyebabkan ledakan informasi, yaitu bercampur aduknya informasi yang layak pakai dan informasi palsu (hoax). Mudah dan murahnya mengakses internet membuat siapa saja merasa berhak dan berkompetensi untuk menilai orang lain. Hasilnya adalah caci maki karena ketidakmampuan menerima perbedaan pendapat sudah lazim kita lihat menghiasi beranda media sosial kita. Tidak hanya di dunia maya, kasus-kasus intoleransi seperti persekusi juga terjadi di dunia nyata lantaran ketidakmampuan seseorang atau kelompok untuk memahami kebinekaan.

 

Siswa baru dan kebinekaan

Pelajar sebagai generasi penerus bangsa tentu sangat diharapkan mampu berpikir secara luas, karena di kemudian hari Indonesia yang bhinneka ini akan diwariskan kepada mereka. Kebinekaan Indonesia adalah sesuatu yang mutlak dan tidak bisa ditawar lagi. Dari Sabang sampai dengan Merauke, Indonesia sudah ditakdirkan berbeda, baik berbeda secara agama, bahasa, budaya, serta adat istiadatnya. Menanamkan nilai kebinekaan kepada siswa baru tentu akan membentuk karakter kepemimpinan mereka, karena mereka diberi tantangan untuk mempersatukan visi dari latar belakang orang yang berbeda, bukan untuk menyeragamkannya.

Bhinneka Tunggal Ika, meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap adalah satu kesatuan. Begitulah semboyan Indonesia yang mencerminkan bahwa Indonesia tidak hanya dimiliki oleh satu agama, suku, partai, golongan atau kelompok masyarakat saja, melainkan milik semua masyarakat Indonesia. Semboyan tersebut ditanamkan kepada seluruh masyarakat Indonesia bahkan sejak pendidikan dasar sampai dengan perguruan tinggi agar masyarakat mampu hidup berdampingan dengan rukun meskipun dengan orang yang berbeda agama, suku, ras ataupun perbedaan yang lainnya.

Menumbuhkembangkan nilai-nilai kebinekaan kepada siswa baru juga dapat menjauhkan mereka dari organisasi yang tidak sejalan dengan ideologi Bangsa. Seperti beberapa waktu yang ramai dibicarakan bahwa pelajar dan mahasiswa menjadi incaran dari sekelompok oknum anti Pancasila yang anti kebinekaan serta ingin menyeragamkan semua yang ada di dalamnya. Sebelum hal tersebut terjadi para siswa dan mahasiswa harus dibekali nilai-nilai kebinekaan yang kuat, agar tidak mudah terbuai rayuan kelompok tersebut.

Kematangan berpikir pelajar tercermin dari keluwesan mereka menghadapi perbedaan, baik perbedaan secara kasat mata maupun perbedaan pemikiran. Nilai-nilai toleransi yang terkandung dalam semboyan bangsa ini harus terus dipupuk, terutama untuk siswa baru yang baru saja memasuki dunia barunya. Siswa baru yang memahami kebinekaan sangat berpotensi untuk melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa, karena hanya yang memahami kebinekaanlah yang mampu memimpin Indonesia di masa yang akan datang.


Artikel lainya

 
LAKUKAN SEKARANG UNTUK MENULIS
 
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MENGGUNAKAN MEDIA KARTU BERGAMBAR
 
KEAKRABAN GURU DAN PENGAWAS SEKOLAH
 
Membangun Kemitraan di Awal Tahun Ajaran Baru

Komentar artikel jurnal

Artikel Lain Kembali ke atas


ARTIKEL JURNAL
Penulis: Trisni Setyaningsih S.Pd.SD
LAKUKAN SEKARANG UNTUK MENULIS
Penulis: Giyarsih - Pengawas Dikpora Kulonprog
KEAKRABAN GURU DAN PENGAWAS SEKOLAH




POJOK INSPIRASI

Sukses biasanya mendatangi orang yang terlalu sibuk untuk mencarinya. (Henry David Thoureau)
LINK PENTING: BSE - Lembaga Pusat - Lembaga Daerah - Link UPTD - Budaya Baca - Konten Pendidikan - NUPTK - NISN - NPSN - Seksi DIKTI - BAN SM

Kantor : Jl.Cendana 9 Yogyakarta Kode Pos : 55166 Telepon : (0274) 541322 Fax : 513132 Email : dikpora@jogjaprov.go.id
Dinas Pendidikan, Pemuda, & Olahraga
Daerah Istimewa Yogyakarta.

www.dikpora.jogjaprov.go.id
Copyright © 2014 .Hak cipta dilindungi undang-undang.
Web themes by watulintang.com