Mengubah “Use Center” Menjadi Youth Center Bertata Nilai Budaya - dikpora.jogjaprov.go.id DETAIL ARTIKEL JURNAL Dipublish: 15 Oktober 2012 01:10 WIB, - Dibaca : 23021 kali

Mengubah “Use Center” Menjadi Youth Center Bertata Nilai Budaya

Penulis : ay
Share :

Pemuda menurut UU Nomor 40 tahun 2009 adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 (enam belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun.  Mengingat batasan pemuda pada usia produktifitas dan semangat yang masih menggelora,  jika tidak hati-hati maka bukan tidak mungkin usia seperti ini mudah sekali tergelincir pada pemilihan aktifitas yang keliru untuk masa depannya,  untuk itulah maka  diperlukan suatu wadah untuk menyalurkan bakat dan kreatifitas yang ada sehingga mengarah pada hal positif.    Sebenarnya sebelum Undang-undang kepemudaan lahir, Pemerintah DIY telah menangkap permasalahan kepemudaan dengan membangun Youth Center di Tlogoadi Mlati Sleman, yang merupakan Unit Pelaksana Teknis   (UPT) milik Dinas Pendidikan, Pemuda dan  Olahraga Daerah Istimewa Yogyakarta.  

Seperti semangat  awal, keberadaan youth center yang diharapkan sebagai pusat kegiatan generasi muda  memiliki peran penting dalam rangka mewadahi berbagai kegiatan positif kepemudaan, namun seiring berjalannya waktu,  gedung yang megah tersebut belum mampu memberikan daya tarik bagi pemuda untuk menjadikan sebagai kawah candradimuka dalam mengembangkan potensi

KONSEP AWAL YOUTH CENTER DAN PERJALANANNYA

Bermula dari timbulnya kesadaran bersama bahwa generasi muda yang ada di DIY baik pendatang maupun asli  daerah tidak semua berhasil menyelesaikan pendidikan,  hal ini terkait dengan berbagai faktor yang menjadi kendala dan gagal dilampaui, seperti dari segi pembiayaan, kemampuan maupun konsep masing-masing lembaga dalam mempertahankan kualitas. Menyadari hal tersebut  Pemerintah Daerah DIY  marasa bertanggung jawab untuk memberikan bekal yang mamadai bagi generasi muda baik pelajar/mahasiswa maupun generasi muda umumnya berupa bekal tambahan memalui sarana pengembangan generasi muda yang dinamakan Youth Center tersebut.   Harapan dan tekad Pemerintah ini diwujudkan dengan Investasi yang besar untuk Pembangunan sarana dan prasarana berupa gedung dan sarana pendukung nya tentunya dengan harapannya bahwa gedung Youth Center tersebut akan mempunyai multi fungsi.  Yaitu :

Kesatu,  sebagai sarana penampungan calon pelajar/dan mahasiswa yang datang di Yogyakarta dan belum mendapatkan tempat kos, maka mereka bisa tinggal di Youth center  untuk sementara waktu dengan biaya yang murah dengan fasilitas yang memadai. kedua, memberikan bekal bagi generasi muda khususnya pendatang dan generasi muda lokal yang kurang berhasil dalam mengenyam pendidikan akademik di Yogyakarta, sehingga mereka bisa mendapatkan pelatihan ketrampilan yang berguna bagi masa depannya.   ketiga, merupakan pusat pengembangan generasi muda  dalam membangun kemampuan diri, seperti pengembangan kemampuan pemahaman terhadap nilai-nilai budaya yang mencari salah satu ciri khas dan keistimewaan Yogyakarta. keempat sebagai pusat informasi dan distribusi pemuda dalam peransertanya pengisian pembangunan di Indonesia, yaitu dengan meng-akses berbagai informasi baik itu kebutuhan lapangan kerja, pendidikan, tempat kos dengan lingkungan yang aman dan sehat, maupun lokasi wisata yang ada di DIY. kelima  sebagai wahana penumbuhan jati diri generasi muda dan mengurangi segala bentuk penyimpangan perilaku kenakalan yang terjadi pada generasi muda, dengan memprbanyak berbagai aktifitas di Youth center misalnya keolahragaan, latihan organisasi. keenam Youth Center sebagai Self Financing institution, artinya tanpa melepas nilai luhur bahwa Youth Center merupakan nir laba dan bersifat pelayanan, namun diharapkan keberadaan Youth center dapat memberikan kontribusi penghasilan yang mampu membiayai lembaga itu sendiri bahkan memberikan kontribusi pendapatan asli daerah
Betapa mulianya semangat dan harapan keberadaan youth center,  namun seiring dengan waktu ombak eforia reformasi dan otonomi yang naik turun, menjadikan youth center masih tertatih-tatih dalam mengisi aktifitas kepemudaan.  Beberapa permasalahan yang dapat dicatat terkait dengan belum mampu-nya youth center menjadi wahana pengembangan dan penempaan potensi gerenerasi muda,  antara lain:

  1. Sebagai sarana penampungan calon pelajar/dan mahasiswa yang datang di Yogyakarta dan belum mendapatkan tempat kos, namun karena dinilai  keberadaan youth center yang jauh dari pusat kota, pusat hiburan dan keramaian serta masih sulitnya tranportasi umum dari kota ke lokasi Youth center menjadikan kurang diminati oleh masyarakat luar DIY untuk tinggal sementara di Youth center.
  2. Sebagai  lembaga yang diharapkan mampu memberikan bekal bagi generasi muda baik  pendatang asli daerah yang kurang berhasil dalam mengenyam pendidikan di Yogyakarta, Youth center belum mempu menunjukkan peran optimal meskipun  secara periodik lembaga pengelola telah mencoba mengadakan pembekalan kepada berbagai organisasi kepemudaan namun masih bersifat tentatif artinya  belum secara baku disusun sebuah kurikulum tentang pembinaan generasi muda yang berpusat di Youth center. Sekaligus sebagai wahana penumbuhan jati diri generasi muda dan mengurangi segala bentuk penyimpangan perilaku kenakalan yang terjadi pada generasi muda,
  3. Youth center yang diharapkan sebagai pusat informasi dan distribusi pemuda dalam peransertanya pengisian pembangunan di Indonesia dan khusunya Yogyakarta, saat ini belum bisa dioptimalisasi hal ini dibuktikan dengan informasi yang ada belum sesuai kebutuhan informasi yang dibutuhkan oleh pemuda, misal informasi tentang sumber-sumber belajar, informasi tentang daftar indekos yang murah dan sehat, informasi tentang perguruan tinggi yang baik di DIY,  informasi tentang kebutuhan tenaga kerja dll., serta dukungan sarana perangkat berbasis teknologi informasi yang belum maksimal.
  4. Youth Center yang diharapkan sebagai lembaga yang mampu menghidupi dirinya sendiri (Self Financing institution), sampai saat ini belum mampu menjadi lembaga mandiri, hal ini karena tingkat pemanfaatan bangunan maupun fasilitas lainnya belum optimal.


DARI “USE CENTER” MENUJU  YOUTH CENTER

        Keberadaan Youth center yang saat ini merupakan gedung megah dengan didukung fasilitas cukup memadai, namun nafas kehidupan sehari-hari belum mampu seperti yang diharapkan, faktanya keberadaan Youth Center lebih berupa keberadaan sarana fisik berupa lokasi  dengan sejumlah gedung dan fasilitasnya. kinerja Youth Center lebih cenderung seperti halnya semacam persewaan aset lahanseperti  camping ground, track sepeda  dan gedung atau ruang untuk pertemuan, rapat baik organisasi-organisasi politik, pendidikan, LSM, dan sejenisnya.  Hasil penelitian lapangan oleh UNY bekerjasama dengan Dinas Dikpora DIY beberapa waktu lalu menemukan fakta bahwa fungsi Youth Center  saat ini  masih merupakan Use Center,  sehingga dapat dikatakan bahwa  nafas kehidupan pada bangunan tersebut akan terasa ketika ada pihak lain/pihak ketiga menyewa atau  menggunakan gedung terebut untuk berbagai kegiatan. 
Meskipun pengguna/penyewa pada umumnya juga dalam rangka pembinaan yang berhubungan dengan generasi muda, namun bukan dari program dan kegiatan yang dikelola dan dikemas oleh pengelola Youth center sendiri,  Kalaupun terdapat program yang diselenggarakan pengelola, Program yang ditawarkan mampu menumbuhkan daya tarik generasi muda untuk datang dan mengembangkan potensi diri di tempat tersebut.  Memang hal ini memang tidak  mudah karena memerlukan studi dan kajian yang mendalam untuk bisa menciptakan sebuah kurikulum kepemudaan di luar sekolah yang mampu memberikan daya  tarik bagi pemuda untuk berusaha mendalami. Permasalahan ini bukan tidak mungkin untuk dapat diatasi, namun tentunya memelukan alokasi dana yang tidak sedikit.

Youth Center sebagai  Pusat Pembinaan Generasi Muda Membangun Tata Nilai budaya

    Sejalan dengan disahkannya UU No. 13 tahun 202 tentang Keistimewaan  Yogyakarta  semakin  menguatkan kedudukan keistemewaan DIY  khususnya dari sisi  Kebudayaan berbasis nilai-nilai keraifan lokal dan keberpihakan kepada rakyat.  Untuk kontek budaya  mengandung arti yang sangat luas, seperti yang termuat dalam Perda No. 4 tahun 2012 pengertian tata nilai budaya  dimaksud menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia antar lain yakni: (1) nilai religio-spiritual, (2) nilai moral, (3) nilai kemasyarakatan, (4) nilai adat dan tradisi, (5) nilai pendidikan dan pengetahuan, (6) nilai teknologi, (7) nilai penataan ruang dan arsitektur, (8) nilai mata pencaharian, (9) nilai kesenian, (10) nilai bahasa, (11) nilai benda cagar budaya dan kawasan cagar budaya, (12) nilai kepemimpinan dan pemerintahan, (13) nilai kejuangan dan kebangsaan, dan (14) nilai semangat khas keyogyakartaan.  Dari ke empat belas tata nilai budaya tersebut menjadikan pekerjaan rumah bagi Pemerintah DIY untuk menjabarkan pada seluruh aspek pembangunan.  

Disahkannya UU Keistimewaan  Yogyakarta merupakan kesempatan yang baik bagi Youth Center mengambil peran dalam rangka menunjukkan jati diri kelembagaan menjadi pusat penggodogan generasi muda untuk lebih mengenal dan mendalalami tata nilai budaya yang sudah mengakar dan menjadi kearifan lokal dalam kehidupan masyarakat DIY,  hal tersebut dapat dituangkan dalam berbagai program dan kegiatan rutin dan menjadi kurikulum tetap Youth Center.  Untuk mendukung program  dan kegiatan dimaksud tentunya harus didukung dengan kesadaran bersama seluruh  pemangku kepentingan Youth center serta anggaran yang memadai.   Misalnya  perlu adanya ruang teater untuk pengembangan tata nilai seni,  sarana dan prasarana out bond dengan nuansa nilai kejuangan keyogyakartaan,  laboratorium bahasa untuk mengembangkan nilai-nilai bahasa, maupun fasilitas lain yang mampu mendukung pengembangan tata nilai budaya, dan sarana  pelatihan pengibaran bendera, bagi pasukan calon pengibar bendera pada upacara hari kemerdekaan berupa relika tiang bendera seperti yang berada di istana Gedung Agung.
Yogyakarta tidak pernah kekurangan pemuda, baik itu pendatang maupun asli daerah, hampir 50.000 (lima puluh ribu) an orang  setiap tahun tumbuh menjadi generasi muda yang tergabung dalam mahasiswa baru,  jika ada upaya bekerja sama dengan perguruan tinggi di DIY, misalnya perguruan tinggi mewajibkan bagi mahasiswanya untuk mengikuti kegiatan pendalaman materi tata nilai budaya Yogyakarta, dengan mengikuti program yang di kembangkan oleh pengelola Youth Center,  bukan tidak mungkin sinergi ini akan mengahasilkan sesuatu yang bermanfaat baik bagi mahasiswa itu sendiri maupun bagi kampus dan pemerintah. Dimana mahasiswa akan mendapatkan nilai tambah selain pendidikan akademik yang didapatkan di kampus tapi juga mendapatkan latihan-latihan tentang budaya Yogyakarta.
 
Langkah yang perlu dilakukan dalam rangka upaya mengubah ”use center” menjadi youth center  sebagai pusat pembinaaan dan pembekalan generasi muda di Yogyakarta paling tidak yang harus dipersiapkan adalah : 

  1. Menyiapkan kurikulum tetap dengan menjabarkan lebih jauh tentang tata nilai budaya yang dikemas dalam sebuah program dan kegiatan di Youth Center, kurikulum dimaksud tentunya realistis dan dapat dijalankankan dan diterima setiap pengguna. 
  2. Melakukan training of trainner (TOT) bagi calon instruktur,  hal ini dapat mengambil sumber daya manusia yang ada di internal Balai Pemuda dan Olahraga  maupun dengan memanfaatkan beberapa SDM binaan BPO sendiri, tenaga SP3, Purna Paskibra, maupun tenaga dari organisasi kepemudaan.
  3. Menyiapkan sarana dan prasarana pendukung kurikulum yang telah disiapkan, supaya kegiatan bisa dijalankan sesuai dengan harapan. Banyak hal yang bisa dikembangkan di Youth center, seperti saraa out bond, pengembangan budidaya ikan, sarana berkesenian, dll. Prasarana lain yang masih terus perlu dibenahi adalah sarana penginapan, camping ground, gedung serba guna, dll.  Hal ini sangat berguna untuk mendukung program dan kegiatan.
  4. Membangun kerja sama dan jaringan pemasaran program dan kegiatan yang ada di Youth Center, seperti out bond, pelatihan seni, pengenalan nilai-nilai tradisi, pengembangan teknologi tepaat guna maupun robotic, pengembangan budidaya perikanan, pertanian dll.
  5. Mulai memikirkan bagaimana mengatasi kendala jarak antara lokasi Youth Center  dengan pusat kota, sehingga Youth Center bisa lebih di kenal dan diminati oleh anak  muda, misalnya bekerja sama dengan Dinas Perhubungan dengan menambah jalur trasn Jogja yang selam ini di kenal angkutan umum milik pemerintah daerah bisa melewati jalur menuju Youth Center, atau bisa juga kendaraan ulang alik antara Youth Center dan kota.

Apalah artinya fisik bangunan megah, jika pemanfaatan tidak memberikan kontribusi nilai balik dari nilai rupiah yang telah dikeluarkan. Nilai balik dimaksud bukan semata berapa nilai rupiah yang telah disetorkan kembali menjadi pendapatan asli daaerah, namun lebih bersifat nilai manfaat dari bangunan tersebut terhadap kemampuan memberdayakan masyarakat khususnya generasi muda.   Demikiam juga Youth center  sebuah bangunan yang telah dibangun oleh pemerintah DIY, sudah selayaknya terus dilakukan revitalisasi keberadaannya, sehingga benar-benar mampu berperan dalam pembinaan generasi muda DIY, bukan hanya sebuah artefak yang menjadi saksi bahwa disini pernah dibangun sebuah Yourh Center.
           
Yogyakarta, Oktober 2012   

*) Didik Wardaya,
Kepala Subbag Keuangan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY


Artikel lainya

 
Pramuka Sebagai Wahana Belajar IPA
 
Menjadikan Program CI (Cerdas Istimewa) Sebagai Program Unggulan di DIY
 
`Donasi` Budaya Informasi Terhadap Pendidikan
 
Pengembangan Kecerdasan Gerak-Kinestetik Pada Anak Usia Dini Melalui Permainan Tradisional

Komentar artikel jurnal

Artikel Lain Kembali ke atas






POJOK INSPIRASI

Antusiasme atas semangat yang besar adalah dasar dari semua kemajuan Dengan antusiasme, akan ada kepandaian,kecakapan dan prestasi.Tanpa antusiasme yang ada hanya alibi. (Henry Ford)
LINK PENTING: BSE - Lembaga Pusat - Lembaga Daerah - Link UPTD - Budaya Baca - Konten Pendidikan - NUPTK - NISN - NPSN - Seksi DIKTI - BAN SM

Kantor : Jl.Cendana 9 Yogyakarta Kode Pos : 55166 Telepon : (0274) 541322 Fax : 513132 Email : dikpora@jogjaprov.go.id
Dinas Pendidikan Pemuda & Olahraga
Daerah Istimewa Yogyakarta.

www.dikpora.jogjaprov.go.id
Copyright © 2014 .Hak cipta dilindungi undang-undang.